27 Sep 2016

Pengalaman mencari kontrakan murah di daerah yogyakarta


Bagi kalangan mahasiswa yang merantau dan kuliah di jogja pasti akan cari kontrakan/kost tak jauh dari kampus mereka. Tapi buat pasutri yang mempunyai penghasilan pas-pasan (seperti saya ) yang merantau di jogja (sebenarnya ga merantau sih, karena suami asli jogja dan saya dari kota lain. Tapi kami memutuskan untuk ngontrak biar bisa mandiri...hehehe)

Saya mulai ngontrak pada tahun 2012. Cari kontrakan itu gampang-gampang susah, gampang karena sebenarnya banyak di iklanin di koran2. Harga yang ditawarkan pun beragam, rata2 diats 5jutaan. Kalau saya sih carinya dibawah 5juta aj lah, sesuai kantong. Sederhana gapapa, asal ada satu syarat yang harus terpenuhi . Tiap saya cari kontrakan pasti yng saya lihat pertama kali adalh TOILET. Hahahah
Kenapa Toilet? Karena saya orangnya jijikan.hehehehe

Pertama kali ngontrak, dapet di daerah modinan, itu di daerah jalan godean ada perempatan kalau dari arah tugu belok ke kiri. Lokasinya deket  bendungan. Lumayan murah, saat itu kami dapat harga Rp. 3,5juta per tahun. Kalo mau kerja pun ga terlalu jauh, sekitar 20menit dari rumah ke kantor. Daerah situ memang ada satu pemilik komplek rumah yang memang dibuat untuk kontrakan.  Letaknya dempet-dempetan, dindingnya campuran batu bata dan triplek. Jadi kita bisa denger tetangga yang lagi berantem sama suaminya, anaknya yang lagi nangis2 trus dimarahin ibuknya atau yang lagi ngomongin kita.  Saya dan suami kalo ngomong sih pelan-pelan aja, soalnya bisa kedengeran tetangga. Dikontrakan ini lumayan nyaman lah, Cuma yang kurang saya suka tempatnya gelap, lembab  dan ventilasinya juga kurang. Depan rumah tanahnya berpasir, jadi kalo ada angin kenceng lantai jadi berdebu. Jadi saya lebih sering menutup pintu.


Tahun 2013 saat anak saya Usianya 4 bulanan saya pindah karena kata pemilik kontrakan mau dipake buat anaknya. ( alasan klasik karena harga mau naik). Bayangkan seminggu sebelum baru dikasih tau pemilik kalo rumahnya mau dipakai anaknya. Kondisi yang tidak memungkinkan untuk cari kontrakan lain. Alhamdulillah dapat info dari saudara di daerah sribitan bantul. Murah meriah, Cuma Rp. 4juta/2tahun. Ya...sangat amat murah sesuai dengan lokasi dan bangunanya.
Bukanya maju tapi malah mengalami kemunduran. Lokasinya di perumahan sribitan bantul. Temboknya sudah pada retak disana sini, lantai keramiknya banyak yang sudah pada lepas. Ga ada dapur, ada dua kamar dan lokasinya dari tempat kerja  lebih jauh lagi. Tapi alhamdulillah TOILET masih bisa dibilang bersih lah ya. Sangat disayangkan suami ngambilnya langsung 2tahun. Hadehh.............


Dikontrakan ini lingkunganya lumayn enak, dan ternyata memang banyak yang ngontrak. Harganyapun murah meriah, kisaran 1,5-7juta. Katanya orang-orng sekitr situ memang murah mengingat lokasinya juh dri pusat kota. Kalau ada yang masang tarif diatas 5juta katanya kemahalan.

Tahun 2015 kamipun pindah, Alhamdulillah dapat kontrakan murah dengan tiga kamar, minus dapur. Harganya Rp. 7jut/2tahun. Lokasinya dekat jalan protokol. Jadi kalau mau ke alfamart atau cari2 keramaian ga terlalu jauh. Tepatnya diperumahan karangjati II, rumahnya rata-rata besar dan kami merasa sangat beruntung karena harga kontrakan sangat murah dibanding pengontrak lain di daerah situ. Ada yang dapat Rp 3,5juta/tahun dengan satu kamar, ada yang dapat Rp 7juta/tahun tapi rumahnya tiap hujan dateng air selokanya mbludak sampai kamar. Alhmdulillah sekali saya dapat yang murah sekligus nyaman ditinggali. Depan rumah ada ibu yang sudah seperti ibu kandung saya sendiri, orangnya baik dan suka bantu kalau saya sedang kesusahan. Lingkungan rumah yang saya kontrak termasuk sepi, jarang dari mereka yang keluar rumah untuk sekedar ngobrol dengan tetangga. Paling hanya ibu depan rumah saja yang ngobrol sama anak/suaminya didepan rumah.

                 ini foto Rumahnya tampak depan



                             ini dalemnya


Dari 2 tahun perjanjian kontrak, saya hanya pakai 1,5 tahun, dikarenakan suami tiba2 dipindah ke kota Solo. Tepat akhir Agustus 2016 kami pindah ke solo. Bagi teman-teman yang mau cari kontrakan murah di daerah jogjakarta, saya sarankan di daerah sekitaran  bangunjiwo Bantul. Disana banyak sekali perumahn-perumahan kecil dan perumahan subsidi, yang biasanya memang ga dipakai pemiliknya dan dijadikan kontrakan. Sekian dan nantikan kisah-kisah saya selanjutnya ya....



Pengalaman kerja di Rumah Sakit



Lulus kuliah 2010, saya masih bingung memutuskan akan bekerja dimana. Mengingat banyak sekali teman-temn yang bekerja  tidak sesuai jurusan yang mereka ambil sewaktu kuliah. Saya dapat info dari teman katanya ada lowongan di sebuah Rumah Sakit (sebut saja Rumah Sakit A), tanpa pikir panjang saya langsung masukin lamaran kesana, karena lokasi rumah sakitnya dekat dengan kos, lamaran saya antar sendiri kesana.
Diwaktu bersamaan, ada Rumah Sakit Swasta lain (sebut saja Rumah Sakit B) yang juga membuka lowongan, saya pikir ga ada salahnya masukin lamaran kesana. Misalnya yang kemarin ga lolos, yang ini bisa buat jaga-jaga. Di  Rumah sakit B malah cepet banget panggilanya, Kurang lebih seminggu setelah masukin lamaran, saya pun di telphone untuk mengikuti  tes. Alhaamdulillah tesnya pun ga susah –susah amat. Seminggu setelah tes, saya dapat telphone lagi untuk wawancara dengan Kepala HRD ( wow senengnya, prosesnya cepet banget dan saya yakin akan diterima.


Senengnya, wawancara dengan HRD pun akhirnya tiba juga. Di sana saya bertemu dengan kepala HRD yang ternyata seorang perempuan. Saya dijelaskan tentang waktu kerja, gaji, dll.
Dan jika diterima di RS, tersebut harus rela ijazahnya ditahan ( what????)
Pulang dari interview malah banyak pikiran, kenapa ijazah harus ditahan. Tiga hari kemudian saya dapat telp dari Rumah Sakit A untuk tes. ( saya malah sudah hampir lupa sama yang ini), sore harinya saya dapat telp lagi dari Rumah Sakit B.( saya dapat panggilan untuk tanda tangan kontak, dan wktunya bersamaan dengan Rumah Sakit yang kedua) pas di telp saya ( dalam kondisi bengong) Cuma jawab iya. Gawat, saya mesti  gimana ini.
Malemnya saya banyakin doa kepada Allah, minta petunjuk yang terbaik. Hari H pun tiba, dan tebak saya ada dimana saat itu???
Ya, saya sedang menunggu antrian tes di Rumah sakit A. Entah kenapa feeling saya mengatakan kalo di sini saya akan lebih baik. He...he...he
Dan kebetulan saya pas ngantri tes barengan sama mantan pegawai  RS B, katanya disana itu bla...bla...bla...( saya jadi mantab dengan pilihan saya)


Setelah mengikuti beberapa rangkain tes, tibalah saatnya menentukan siapa yang lolos. Alhamdulillah saya LOLOS. Alhamdulillah di RS ini temenya baik-baik, kerjanya juga Cuma ada dua shift. Pagi dan siang. Di Rumah Sakit ini sudah kaya rumah kedua bagi saya, suasana yang kekeluargaan antara atasan dengan bawahan. Apalagi setelah ada penambahan baru di bagian saya ( maaf tidak saya sebutkan bag. Apa). T namanya, dia temen yang lucu, menyenangkan, suasana kerja jadi tambah asyik, apalagi kalo kedapatan Dinas bareng dy.


 Pas saya menikah dan punya anak, kebetulan jam kerja diubah menjadi tiga Shift. Agak sedih juga, anak masih kecil ditinggal jaga malem, apalagi anak saya masih dalam tahap ASI Eksklusif. Alhamdulillah pihak RS, tidak melarang karyawanya bawa anak. Pas jaga malem, anak saya boboin di tempat yang memang disediakan untuk karyawan yang jaga malam.
Kalo jaga siang, sorenya sekitar jam 4 anak saya ambil dari tempat penitipan kemudian saya ajak jaga di Rumah Sakit. Agk ribet memmng, ketika pasien lagi banyak-banyaknya dan anak kita rewel minta ditemnenin main. Kdang ada pasien yang suka nanya, ( wah ankanya ya mbak?) kok ikut kerja)
Ya, mau gimana lagi. Beruntung saya bekerja di Rumah Sakit yang khusus untuk penyakit-penyakit yang “kebnyakan diagnosanya tidak menular”. Jadi anak masih aman lah ya...hehehe


Tiga tahun saya di Rumah Sakit ini dan anak juga tambah gede, saya tidak bisa fokus kerja karena ditengah kerja harus ngurus anak. Disamping itu sistem kerja shif, bikin saya dan suami juga anak jarang kumpul bareng.  Sedih, tapi mau gimana lagi. Saya memutuskan untuk resign, saya ingin mencari pekerjaan yang kalo bisa sih ga usah shift. Setelah resign, saya belum tertarik mencari kerja lagi. Capek prosesnya, tes, interview, menyesuaikan dengan tempat kerja baru lagi. Saya memilih nganggunr dulu di Rumah, Sambi momong anak.